OVERVIEW YAYASAN SRI AMINI BETIS

Selasa, 29 Oktober 2019
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Setiap lembaga atau instansi pasti mempunyai sejarah perkembangan dari awal mula terbentuk hingga tahap demi tahap perkembangan sampai lembaga/ instansi tersebut mencapai puncaknya. Setiap sejarah merupakan sesuatu yang sangat berharga, tidak hanya untuk dikenang lebih-lebih untuk diambil pelajaran dan hikmah dari setiap proses perkembangannya. Oleh karena itu, sejarah harus terus diketahui oleh generasi-generasi yang akan datang, sehingga sangat perlu untuk membuat overview tertulis dari lembaga/ instansi tersebut agar sejarahnya dapat terus diketahui oleh orang lain.

Begitu pula dengan lembaga kami yaitu Yayasan Sri Amini Betis yang juga memiliki sejarah yang sangat panjang dan penuh hikmah. Sehingga pada tulisan ini kami akan menumpahkan hasil overview Yayasan Sri Amini Betis (YSAB) agar dapat diketahui oleh orang lain sehingga dapat diambil pelajaran/ hikmahnya.




SELAYANG PANDANG MASJID AMINI BETIS

Senin, 19 Agustus 2019
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dalam pandangan Islam masjid merupakan pusat yang sangat strategis untuk membina masyarakat yang islami. Terbukti ketika Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah sewaktu beliau hijrah maka pertama kali proyek yang beliau kerjakan adalah membangun masjid.
Masjid Sebagai Pusat Peradaban Umat Muslim
Dengan begitu sudah semestinya masjid menjadi pusat peradaban untuk umat muslim. Sehingga keberadaan masjid sangat diperlukan bagi umat muslim sebagai tempat beribadah, menimba ilmu, agama, pembinaan akhlaq, serta kegiatan positif lainnya.
Manfaat keberadaan masjid tersebut juga sangat diperlukan masyarakat dukuh Betis desa Gabus Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Sehingga salah satu warga dukuh Betis bernama Ibu Sri Amini pada tahun 1994 menginisasi pendirian masjid di Dukuh Betis yang diberi nama "Masjid Amini".

Pendirian Masjid Amini Betis diatas tanah waqaf seluas 860 m2 dengan nomor AIW PPAIW tanggal 18-2-1994 No.28/1994 dengan Waqif atas nama Ir. H. Sri Djoko Pararto yang oleh karena kesibukan beliau diwakili oleh ibundanya yaitu ibu Hj. Sri Amini dengan susunan Nadzir sebagai berikut:
1. Pak H. Sarpin S sebagai Ketua
2. Pak Sahlan, S.Pd sebagai Sekretaris
3. Pak Suanrto, S.Pd sebagai Keuangan
4. Pak Mahmudi sebagai Anggota
5. Pak Sukin sebagai Anggota

Sejak tahun 1994 pengelola/ takmir masjid Amini Betis dibawah kontrol para Nadzir yang tertera di dalam akta waqaf serta keluarga waqif di Sragen.
Pada tahun 2002, Pak H. Sri Djoko Pararto mendapatkan amanah dari ibundanya Hj. Sri Amini untuk membangun Masjid Amini yang baru betempat di sisi barat dengan teras masjid yang lebih luas sehingga dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan masyarakat. Amanah lain dari ibu Hj. Sri Amini adalah memanfaatkan tanah kosong di sekitar masjid Amini untuk ditanami pohon jati agar kedepannya dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan masjid Amini.

Tahun 2002 tersebut kondisi ibu Hj. Sri Amini mulai menurun drastis dan pada tanggal 31 Maret 2002 beliau wafat menghadap Allah SWT setelah kritis di Rumah Sakit Dr. Oen di Surakarta. Sepeninggalan ibu Hj. Sri Amini, Bpk H. Sri Djoko Pararto mulai menjalankan amanah ibunya untuk mengembangkan Masjid Amini. Penanaman 4000 pohon jati emas di lokasi masjid amini seluas 4230 m2 dilakukan sebagai langkah awal menunaikan amanah dari ibundanya.

Seiring berjalannya waktu, sebagai salah satu bentuk pengoptimalan fungsi masjid amini untuk masyarakat pada tahun 2003 didatangkan dua Ustadz tetap untuk mengelola kegiatan kegamaan di masjid Amini, namun 2 Ustadz tersebut hanya bertahan sampai tahun 2006 dan kemudian digantikan oleh Ustadz dari pondok pesantren Magelang. 
Lambat laun kegiatan di Masjid Amini mulai tampak lebih baik, namun pada tanggal 2013 Ustadz dari Magelang tersebut menyudahi tugasnya di masjid amini karena koordinasi yang kurang baik dengan keluarga waqif di Sragen. Kemudian pada tahun 2014 pengelolaan kegiatan masjid amini diamanahkan kepada Ustadz dari Pondok Pesantren Al Haromain Malang.

Sebagai salah satu upaya untuk menjaga koordinasi segala pihak yang mengelola masjid amini, pada tahun 2015 Masjid Amini dikembangkan menjadi suatu yayasan yang diberi nama Yayasan Sri Amini Betis (YSAB) dengan tujuan utama untuk kemaslahatan masyarakat di bidang keagamaan, soisal dan pendidikan/kemanusiaan. Langkah awal yang dilakukan sebagai upaya pengembangan YSAB adalah menjual pohon jati yang telah ditanam untuk dibelikan pohon jati yang sudah siap pakai untuk membangun pondasi Masjid Amini dan fasilitas-fasilitas di sekitarnya antara lain ruang kelas dan rumah dinas.

Sebelum pembangunan dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar yang dihadiri oleh beberapa perwakilan masyarakat dan perangkat desa, kemudian hasil sosialisasi tersebut dilaporan kepada aparat pemerintah setempat dan diadakan tasyakuran bersama sebagai bentuk kerukunan dan rasa syukur atas dilancarkannya proses sosialisasi pengembangkan masjid Amini.

Pembangunan pengembangan Yayasan Sri Aminin Betis (YSAB) dilakukan dengan melibatkan tenaga kerja dari masyarakat sekitar Betis dan jama'ah Masjid Amini. Pada tahun 2016 untuk menunjang kebutuhan YSAB dan masyarakat sekitar dibangun sumur resapan sebagai penyedia air bersih.
Proses Pengembangan YSAB
Sebagai bentuk pengoptimalan sumur resapan tersebut, Yayasan Dana Sosial Al-Falah (YDSF) Surabaya memberikan bantuan mesin filtrasi air produk dari Gusse Technology International yang bekerjasama dengan pihak Jerman. Mesin filtrasi air tersebut nantinya digunakan untuk produksi air minum yang dikelola oleh YSAB untuk dijual dengan harga lebih murah untuk masyarakat sekitar. Namun seiring berjalannya waktu, mesin tersebut masih belum dapat dioptimalkan pengelolaannya karena beberapa hambatan yang didapati.

Tahun 2017 YSAB mulai mengadakan kerjasama dengan beberapa instansi, beberapa diantaranya adalah Pondok Pesantren Aisyiah Gemolong dan Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Sehingga dikirim 2 ustadz muda dari Gontor untuk melakukan kegiatan PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat).
Pelaksanaan Ikrar Waqaf YSAB
Setelah pengembangan YSAB hampir selesai dilakukan, pada tahun 2018 dilakukan Ikrar waqaf bertempat di Masjid Amini baru dengan Waqif Almh Ibu Hj. Sri Amini yang diwakili oleh Putranya yaitu Bpk. H. Sri Djoko Pararto.
Bpk. H. Sri Djoko Pararto beserta Ibu Suwarni telah mewaqafkan tanah seluas sekitar 3370 m2 termasuk di dalamnya Masjid Amini Betis kepada lembaga berbadan hukum Yayasan Sri Amini Betis (YSAB) sehingga total semua tanah waqaf adalah 4230 m2.
Kompleks YSAB beserta Masjid Amini Sebagai Objek Utama
Ikrar waqaf disaksikan oleh KUA Ngrampal, masyarakat setempat serta aparat pemerintahan setempat dan telah didaftarkan ke KEMENAG melalui BWI (Badan Waqaf Infaq) di Propinsi Jawa Tengah, dengan nomor No.1124/KUA.11.14.11/PW01/XII/2018 tanggal 18/XII/2018 yakni dari nadzir perorangan berubah ke nadzir berbadan hukum Yayasan Sri Amini Betis (YSAB)

Sejak tanggal 18 Oktober 2018 disyahkan Nadzir Masjid Amini Betis adalah Yayasan Sri Amini Betis (YSAB) yang susunan pengurusnya sebagai berikut:
1. Priyo Santoso (Ketua Umum Yayasan)
2. Trio Joko Moertopo (Sekretaris Yayasan)
3. Nawang Gundari (Bendahara Yayasan)
4. Firman Parol (Anggota Pembina Yayasan)
5. Sarpin Siswo Darsono (Anggota Pengawas Yayasan)
Logo Yayasan Sri Amini Betis (YSAB)
Tahun 2019 YSAB bekerjasama dengan STKIP Al Hikmah Surabaya untuk mendatangkan Ustadz yang ditugaskan menjadi penanggung jawab kegiatan keagamaan dan pendidikan di YSAB sebagai penunjang kemaslahatan masyarakat sekitar.
Semoga Allah memudahkan dan melancarkan tahap demi tahap pengembangan YSAB agar kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat sekitar khususnya dan umumnya untuk seluruh umat Muslim.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.





MARI MEMERDEKAKAN GURU

Sabtu, 17 Maret 2018


Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh... ^_^
Kali ini marak sekali guru-guru yang dipenjara karena dilaporkan wali murid ke kepolisisan dengan alasan guru tersebut menganiaya anaknya. Baru-baru ini juga, seorang kepala sekolah dipukul wali murid di ruangannya karena merasa tidak terima anaknya terkena hukuman. Tidak hanya itu ada lagi tragedi guru BUDI yang sempat viral di seantero Indonesia ini. Pak Budi (Guru Kesenian) sampai dibunuh oleh muridnya sendiri dengan alasan yang sepele. 
Melihat hal tersebut, lantas membuat saya berpikir. Masih Adakah GURU? Apakah dia masih dianggap? Lalu bagaimana nasib pendidikan Indonesia jika guru hanya diberi ruang sempit sebagai PENGAJAR bukan PENDIDIK. Mari kita simak tulisan di bawah ini.

Sudah tidak muda lagi umur negeri Indonesia ini, tujuh dekade lebih bangsa ini sudah memproklamasikan kemerdekaannya. Setiap tanggal 17 Agustus semua masyarakat Indonesia merayakan dan meramaikan hari bersejarah tersebut lewat upacara peringatan, lomba-lomba, serta mendekorasi tempat dengan tema merah putih. Tak terkecuali pun di lingkungan sekolah, seluruh sekolah di Indonesia serentak melaksanakan upacara keramat dengan sangat khidmat dengan pekikan kata-kata “MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA” instruktur upacara berteriak untuk memompa semangat, bendera sang saka merah putih dikibarkan dengan iringan lagu Indonesia raya dan seluruh guru serta siswa serentak mengangkat tangan kanannya dan hormat kepada kain merah putih yang dijahit pertama kali oleh Ibu Fatmawati.

Namun apakah hal rutinan tersebut sudah menggambarkan kemerdekaan yang semestinya? Apakah Guru sudah merdeka? Atau mungkin malah sengsara?. Guru SMP di Sidoarjo dipenjara karena mencubit muridnya, seorang Guru di Sumatera selatan masuk bui karena mencukur rambut siswanya yang gondrong bahkan hingga rambut sang guru tersebut juga dicukur paksa oleh orang tua murid yang bersangkutan, guru di Makasar dipukuli oleh orang tua siswa. kasus-kasus tersebut sudah terjadi secara nyata, apakah itu yang namanya merdeka? Dimanakah kemerdekaan guru di negeri ini? Jangankan merdeka, harga diri guru pun juga patut dipertanyakan.

Panglima Jepang bertanya kepada pasukannya ketika Jepang diserang oleh bom besar, “berapa jumlah guru yang tersisa?”. Begitu pentingnya sosok guru di negeri sakura hingga ketika rakyat luluh lantah pun, sosok guru adalah prioritas utama yang diperhitungkan. Tak hanya di negeri seberang, Presiden kedua bangsa Indonesia yaitu Pak Suharto juga sempat berpesan “guru bukan hanya mengajar di depan kelas, dia yang akan menentukan nasib bangsa”. Mungkin sekarang beliau sedang bersedih karena melihat bangsa Indonesia yang katanya sudah merdeka tetapi nyatanya masih sengsara terutama pada sosok pelopor kemajuan bangsa melalui pendidikan yaitu guru.

Melihat begitu banyak fakta yang mencengangkan mengenai guru, sudah sepatutnya bangsa indonesia memerdekakan guru dengan cara memberikan hak-haknya sebagai guru. Guru seharusnya berhak memberikan reward yang mendidik kepada siswanya yang baik dan yang tidak baik, tidak sepatutnya kita mempersempit ruang guru untuk mendidik murid-muridnya ketika disekolah. Bagaimana bisa guru melaksanakan kewajibannya dengan tenang jika masih dihantui oleh pencabutan haknya ketika disekolah yaitu hak memberikan reward kepada muridnya, karena itu adalah salah satu cara untuk mendidik muridnya.

Mari menela’ah pendidikan yang diajarkan oleh Rasulullah, baginda Rasul bersabda "Perintahkanlah anak-anak kalian mengerjakan salat bila telah menginjak usia tujuh tahun dan pukullah mereka saat berusia sepuluh tahun karena meninggalkannya ... " (HR. Abu Dawud dan Ahmad). Hadits tersebut menunjukkan bahwa begitu pentingnya menjalankan kewajiban dan jika kewajiban tersebut dialalikan maka perlu diadakan sebuah hukuman, namun hukuman yang dimaksud harus sesuai kadar dan konteks permasalahan yang dibuat, bukan hukuman yang semena-mena. Tidak hanya Rasulullah, sahabat Rasul yaitu sayidina Ali juga mempunyai konsep pendidikan yang salah satunya yaitu didiklah anakmu seperti tawanan ketika berusia 7-15 tahun. Hal tersebut juga menjelaskan secara tersirat bahwa guru juga berhak untuk memberikan aturan-aturan yang ketat dan tegas agar muridnya tidak kelewat batas.


Marilah kita yang sebagai orang tua bersama-sama menyamakan visi dengan guru, sudah sepatutnya kita serahkan anak-anak kita kepada guru ketika sudah berada di sekolah, ketika di rumahpun jika anak melakukan kesalahan juga pasti akan kita beri hukuman. Hal tersebut semata-mata hanya diniatkan untuk mendidik. Merdekakan guru dengan cara memberikan hak-hak mendidiknya dan membantu program-program yang telah dibuat oleh guru.

Demikian, Mohon maaf jika ada salah karena ini hanya opini saya pribadi.
Wassalamu'alaikum ^_^

KAIDAH BID'AH DALAM MATEMATIKA

Jumat, 02 Maret 2018
KAIDAH BID’AH DALAM MATEMATIKA
Assalamu’alaikum ^_^
Semoga pembaca tetap dalam ridho dan rahmat Allah SWT.
Kali ini, penulis ingin menuliskan suatu hal yang sedang marak dibahas khususnya pada golongan orang-orang muslim.

Mendekati akhir zaman ini, umat muslim sedang dipermasalahkan dengan maraknya Tukang Bid’ah. Kata-kata Bid’ah seolah olah sangat ringan dan mudah untuk diucapkan dan digunakan untuk menjudge muslim lain yang melakukan suatu tindakan yang tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Orang yang sering meneriakkan kata-kata “bakso” disebut tukang bakso. Orang yang sering mengatakan kata-kata “jahit” ya berarti tukang jahit, begitupun orang yang sering mengatakan “bid’ah” ya pasti namanya tukang bid’ah.

Definisi BID’AH menurut orang-orang tukang bid’ah adalah “Jika tidak dilakukan Nabi maka itu Bid’ah”. Mari kita perhatikan kalimat tersebut. Dalam Logika Matematika terdapat salah satu kata hubung yaitu “Implikasi” yang mengandung makna “Jika Maka”.
Terdapat dua pernyataan dalam kaidah tersebut. Pernyataan pertama kita misalkan P  dan pernyataan kedua kita misalkan Q . Adapun nilai kebenaran yang dihasilkan dari pernyataan implikasi yaitu:
BàB : S
BàS : B
SàB : S
SàS : S
Agar pernyataan tersebut mempunyai konklusi B (Benar) maka pernyataan P harus benar dan pernyataan Q harus salah.
Mari kita perhatikan pernyataan Q terlebih dahulu. Pernyataan Q adalah “itu bid’ah”. Apakah Bid’ah merupakan perkara yang dibenarkan Nabi? TIDAK. Artinya pernyataan Q sudah bernilai salah. Sekarang mari kita perhatikan pernyataan P yang berbunyi “Tidak dilakukan Nabi”.
Apakah setiap yang tidak dilakukan nabi lalu kita melakakukannya itu bid’ah?. mari kita perhatikan beberapa fakta berikut.
1.     Apakah nabi pernah berkendara dengan menggunakan motor? Tidak? Jika tidak berarti kita yang sekarang berkendara dengan motor itu bid’ah.
2.    Nabi mendengarkan terompah bilal di surga “kresek, kresek, kresek”. Lalu nabi bertanya “Apa amalanmu bilal?”. Bilal pun menjawab “Aku tidak pernah meninggalkan shalat sunnah dua rakaat setelah wudhu.
Pertanyaannya. Pernahkan nabi melakukan shalat sunnah wudhu? TIDAK. Pernahkah Nabi mengajarkannya? TIDAK PULA. Berarti siapa saja yang melaksanakan shalat sunnah wudhu itu BID’AH?.
Kalau begitu ya seharusnya Nabi memanggil Bilal dan mengatakan “bilal sini, saya dengar gesekan terompahmu di neraka jahannam, karena bid’ah itu perbuatan yang sesat dan tempatnya orang sesat adalah di neraka jahannam”. Namun apakah nabi berkata demikian? TIDAK. Malah Dengan amalan tersebut Nabi mendengar gesekan terompah bilal di Syurga.
3.    Abu hurairah R.A sebelum tidur malam beliau selalu membuat 1000 simpul pada tali untuk digunakannya sebagai hitungan dzikir. (karena waktu zaman itu belum ada tasbih made in china :D). Pertanyaannya, pernahkan nabi melakukan atau mengajarkannya? TIDAK PERNAH. Lalu jikalau begitu pastinya nabi akan menghukumi abu hurairah sebagai ahli neraka. Tentunya itu tidak benar. 
4.    Adapun Imam Hambali. Beliau melakukan shalat malam (tahajud) sebanyak 300 rakaat. Padahal Nabi hanya melakukan shalat malam sebanyak 11 rakaat (HR Aisyah r.a). Lalu apakah imam hambali melakukan Bid’ah? Padahal beliau adalah salah satu imam ahlussunnah wal jama’ah. Tentulah tidak.
Dengan begitu maka dapat diambil kesimpulan bahwa pernyataan P yang berbunyi “Tidak dilakukan Nabi” itu terbukti bernilai salah. Jika SàS maka kesimpulannya adalah Salah. Maka bagaimana agar kaidah implikasi itu bernilai Benar? Agar kaidah itu benar maka pernyataan P harus diganti dengan “Tidak ada dalil”. Sehingga bentuk implikasinya adalah “Jika tidak ada dalil maka itu Bid’ah”.
Begitulah logika matematika sebenarnya sudah terintegrasi dalam konsep kaidah usul fiqih yang disepakati oleh ulama’ ahlussunnah wal jama’ah. Marilah kita menjaga mulut dan hati kita agar tidak terlalu mudah mengucapakan datau menjudge saudara muslim kita dengan kata “Bid’ah” telusuri dulu kebenaran dalilnya agar kita tidak salah menyikapinya.

Sekian. Terimakasih. Wassalamu’alaikum ^_^ 

PROBLEMATIKA GURU ZAMAN NOW

Selasa, 27 Februari 2018
PROBLEMATIKA GURU
“Hasil Diskusi Mahasiswa S1. Pend Matematika Angkatan 2014
STKIP Al Hikmah Surabaya”
Guru merupakan elemen inti dalam dunia pendidikan. Elemen inti ini harus terus kita perhatikan dan terus kita perbaiki kekurangan-kekurangan yang masih ada. Beberapa waktu ini, banyak permasalahan-permasalahan guru yang mencuat dan viral di dunia maya maupun nyata.
Kami mahasiswa S1. Pendidikan Matematika STKIP Al Hikmah Surabaya telah merangkum beberapa permasalahan yang sering dihadapi oleh guru zaman now di Indonesia khususnya. Tidak hanya permasalahan-permasalahan yang kami suguhkan, namun kami juga menyuguhkan beberapa solusi yang bisa menjadi bahan pertimbangan oleh seluruh elemen pendidikan. Berikut hasil diskusi kami.
A.   Permasalahan
1.      Guru mesum
2.      Kekerasan pada guru
3.      Guru bolos
4.      Guru korupsi waktu
5.      Guru curang UN
6.      Guru kurang kompeten
7.      Guru makelar
8.      Guru kurang gaji
9.      Guru pekerja
10.  Guru sogok
11.  Guru dibully
12.  Guru cangkruk
13.  Guru lembek

B.   Permasalahan yang didiskusikan
1.    Guru mesum (LGBT, Pedhopilia)
Saran solusi:
a.    Pembinaan guru (Parenting)
b.      Menambah persyaratan jadi guru “harus sudah menikah”
c.    Pembatasan ruang gerak antara guru dengan siswa : (1) pemisahan tempat kelas dan bangku antara putra dan putri, (2) setiap guru mapel mengajar harus didampingi dengan wali kelas.
d.      Tes psikologi
e.       Kerjasama BKKBN
f.     Penerapan sanksi tegas untuk guru
g.    Siswa wajib berpakaian syar’i (menutup aurat)
h.      Kelas online

2.    Guru kurang gaji
Saran solusi:
a.       Sumbangan dana dari masjid
b.      Memberikan pemahaman mengenai guru pejuang
c.    Doble profession (mengambil pekerjaan sampingan selain guru seperti menjadi penulis) asal tidak mengganggu keprofesionalitasan guru
d.    Memfasilitasi guru untuk sertifikasi
e.       Merger sekolah agar gaji meningkat
f.        Membuat dan memaksimalkan “Lembaga Infaq” untuk membantu kondisi ekonomi guru

3.    Guru curang UN
Saran solusi:
a.    UN ditiadakan (jangka panjang)
b.      Penambahan jam kursus UN di sekolah untuk menanggulangi kekhawatiran guru terhadap kemampuan siswanya.
c.    Pemerintah membuat peraturan yang tegas untuk kecurangan UN
NB: poin-poin yang ditebalkan adalah hasil diskusi dari solusi yang disepakati

Demikian curahan kepedualian kami mahasiswa calon guru STKIP Al Hikmah Surabaya mengenai problematika guru yang ada di Indonesia. Harapan kami, apa yang telah kami diskusikan ini dapat memicu pembaca untuk ikut memikirkan permasalahan guru dan dapat mengetuk hati kita semua untuk sama-sama menyelesaikan permasalahan tersebut dengan berbagai macam cara mulai dari yang terkecil berupa ide dan dukungan hingga yang terbesar berupa tindakan nyata.

Mendidik Anak (Ahad Dulu Baru Akhlak)

Jumat, 23 Februari 2018

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. ^_^
Pendidikan adalah hal yang paling utama untuk didapatkan dan dilakukan oleh manusia. Karena inilah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Pendidikan sudah harus dilakukan oleh manusia sejak manusia itu lahir di dunia ini. Dunia ini memang fana, sehingga bayi yang baru lahir sudah harus dididik agar tidak terjerumus dengan kefanaan dunia ini. Lalu bagaimana cara mendidik bayi  yang baru lahir dari rahim seorang ibu yang mulia?.

Caranya sangat sederhana sekali. Saat bayi lahir, maka dianjurkan untuk mengadzani jabang bayi tepat di telinga kanannya. Ini diperkuat dengan beberapa dalil hadits berikut:

1. Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)

2. 
Dari Al Husain bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ
“Setiap bayi yang baru lahir, lalu diadzankan di telinga kanan dan dikumandangkan iqomah di telinga kiri, maka ummu shibyan tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu Sunny dalam Al Yaum wal Lailah).
Ummu shibyan adalah jin (perempuan) yang dapat dilihat oleh bayi. Jika anda menjumpai seorang bayi yang tiba-tiba menengokkan kepalanya ke atap dan menangis dengan histeris, disitulah Ummu shibyan menampakkan dirinya kepada si bayi.

Lalu apa hubungannya mengadzani bayi dengan pendidikan?
Oke. Let's we discuss about it.
"Hai nak, jangan nakal ya... yang nurut ya..."
"Anakku yang ganteng.. Gak boleh rewel ya..."
"Uhhh Ganteng sekali anakku, semoga besok jadi dokter ya nak.."
"Hayo nak, gak boleh makan pakai tangan kiri ya.. harus pakai tangan kanan"
Secara umum, begitulah orang tua saat menimang si bayi.
Apa itu salah? tidak. itu tidak salah. harapannya baik dan kata-katanya baik.

Jika kita amati, konsep pendidikan orang tua seperti contoh di atas adalah pendidikan yang berkenaan dengan akhlak. Itu sangat baik.
Namun ada satu yang kita lupakan. Apa itu? Mengenalkan Allah dan Rasulnya (Tauhid) kepada si bayi.
Bukankah suara yang didengar bayi pertama kali saat ia lahir adalah "ALLAHU AKBAR" lewat adzan yang dikumandangkan oleh ayahandanya?. Sang Ayah pun juga mengajari si bayi untuk bersyahadat "ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH" dan "ASYHADU ANNAA MUHAMMADAN RASULULLAH" ? Bahkan jika kita cermati, seluruh kalimat adzan adalah berkenaan dengan TAUHID.

Jika kita tinjau lebih dalam lagi. Sebelum si bayi lahir alias masih berada di dalam kandungan. Si Bayi tersebut sudah diajak berkenalan dengan Allah. Simak Al Qur'an Surat Al-A'raf (surat ke-7) ayat 172 yang artinya:
"Dan saat Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Dia jadikan mereka saksi atas Nafs (anfus) mereka : ‘Bukankah Aku Tuhan kamu ?’ ; Mereka berkata : ‘Betul ! kami menyaksikan.’ ; Hal ini agar kamu tidak dapat berkata dihari kiamat : ‘Sungguh kami lalai dari perjanjian ini’."

"Allastu Birabbikum?"
"Balaa"
Ayat tersebut menjelaskan tentang persaksian bayi tentang kehambaanya kepada Allah sebagai Rabbnya. Jelas ini juga perkara tentang TAUHID.

Nah... Para Ayah dan Para Ibu, mari kita mendahulukan pendidikan Tauhid kepada anak kita sebelum mengajarkan Pendidikan Akhlak. Karena inilah yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir. Jika ada dua orang, satu muslim dan satu non muslim, keduanya sama-sama mempunyai akhlak yang baik semisal suka menolong, mandiri, suka bersedekah, bijaksana, adil, dll. lalu apa yang membedakannya? TAUHID. itulah yang membedakannya.

Lalu bagaimana cara mengajarkan Pendidikan Tauhid kepada anak?
Untuk menjawab hal ini, penulis hanya dapat memberi saran berupa pengetahuan, bukan berupa pengalaman. Karena penulis juga belum mempunyai anak karena belum menikah. Hehehe. Afwan cuman intermeso.

Begini Caranya:
1. Senantiasa bacakan surat Al-Ikhlas kepada anak kita, saat menimangnya, saat menggendongnya, saat menemaninya sebelum tidur sempatkan baca surat Al-Ikhlas. Apa anak paham? tentu saja belum. Karena anak usia bayi tingkat kognitifnya masih rendah. Namun anak usia bayi mempunyai daya ingat yang tinggi lewat penglihatan dan pendengarannya. Jika ia sering mendengarkan surat Al Ikhlas di usia bayi maka insyaAllah kelak saat ia beranjak remaja, ia akan selalu mengingat Keesaan Allah dan meneguhkan ketauhidannya melalui surat Al Ikhlas.
2. Jika bayi sudah mulai bisa berbicara sepatah atau dua patah kata, tuntun dia untuk mengucapkan kata Allah dan Muhammad. Dengan begitu, si bayi akan terus mengucap kata "Allah". Udah kecil udah jadi ahli dzikir tuh. MasyaAllah ^_^
3. Jika anak sudah mulai bisa menghitung penjumlahan dan pengurangan. Ajarkan keesaan Allah lewat matematika. Gimana caranya? Oke simak penjelasan berikut.
"Nak.. Tau endak angka yang pertama kali muncul dan dapat menciptakan agnka yang lain itu angka berapa?"
"ehmm,, endak tau bun. 7 mungkin.. karena saya suka angka 7"
"owhh, 7 ya.. kenapa kok 7 angka yang pertama kali muncul nak?"
"Endak tau bun, adik cuma nebak karena 7 angka kesukaan adik bun"
"owh begitu, oke nak sekarang coba perhatikan bunda. 2+2 berapa nak?"
"4 lah bun"
"wahh pinter anak bunda. Oke sekarang kalau 2-2?"
"ya 0 lah bun.. adik kan paling jago matematika kalau di kelas hehe"
"wahh sip nak. tapi ndak boleh sombong yaa.. Oke berarti angka 2 itu bisa menciptakan angka berapa saja nak?
"angka 2 bisa mencipatakan angka 0 dan 4 bun"
"Oke, kalau dilanjutkan lagi. karena 4 sudah ada. jadi 4+2 berapa?"
"6 bun"
"sip. lalu bisa ndak angka 2 menciptakan angka 3 atau angka 5?"
"(berpikir) sepertinya ndak bisa bun"
"nah.. itu.. angka 2 ndak bisa menciptakan angka lain dengan lengkap. Lalu angka berapa yang bisa menciptakan angka 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,10?"
"ehmm.. adik nyerah bun"
"hehe, oke nak. Angka 1 nak jawabannya"
"emang bisa ya bun angka 1 menciptakan angka lain dengan lengkap?"
"1-1=?"
"0 bun"
"1+1="
"2 bun"
"karena udah muncul angka 2 maka 1+2=?"
"3 bun"
"1+3="
 "4 bun. owh iya ya bun seterusnya pasti bisa itu bun. Wahh keren ya angka 1 bun"
"hehe. karena angka 1 itu memang spesial nak. Makanya yang bisa mencipatakan segala sesuatu itu ya yang 1 (Ahad). Allah nak. itulah alasannya kenapa Allah itu Esa. Allah itu Satu. Karena Allah memang Maha Pencipta".
"MasyaAllah bun. begitu bun ya.. Luar biasa Allah bun. Adik akan ajari teman sekolah adik tentang ini ya bun"
"Iya nak, ajarkan teman-temanmu mengenal Allah lewat Matematika"
(SELESAI)
hehehe. MasyaAllah. Cerita yang sangat mengharukan ya..
Ini semua masih berupa PENGETAHUAN jika kita mampu memahaminya. Dan ini akan menjadi ILMU jika kita mengamalkannya.
Selamat mengamalkan ya...
Afwan bila banyak kekurangan.
Semoga bermanfaat. aamiin.. :-)

Wassalamu'alaikum warahmatullah Wabarakatuh. ^_^