Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh. ^_^
Pendidikan adalah hal yang paling utama untuk didapatkan dan dilakukan oleh manusia. Karena inilah yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan Allah yang lain. Pendidikan sudah harus dilakukan oleh manusia sejak manusia itu lahir di dunia ini. Dunia ini memang fana, sehingga bayi yang baru lahir sudah harus dididik agar tidak terjerumus dengan kefanaan dunia ini. Lalu bagaimana cara mendidik bayi yang baru lahir dari rahim seorang ibu yang mulia?.
Caranya sangat sederhana sekali. Saat bayi lahir, maka dianjurkan untuk mengadzani jabang bayi tepat di telinga kanannya. Ini diperkuat dengan beberapa dalil hadits berikut:
1. Dari ‘Ubaidillah bin Abi Rofi’, dari ayahnya (Abu Rofi’), beliau berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ
“Aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan adzan di telinga Al Hasan bin ‘Ali ketika Fathimah melahirkannya dengan adzan shalat.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)
2. Dari Al Husain bin ‘Ali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ وُلِدَ لَهُ مَوْلُودٌ فَأَذَّنَ فِي أُذُنِهِ الْيُمْنَى وَأَقَامَ الصَّلَاةَ فِي أُذُنِهِ الْيُسْرَى لَمْ تَضُرَّهُ أُمُّ الصِّبْيَانِ
“Setiap bayi yang baru lahir, lalu diadzankan di telinga kanan dan dikumandangkan iqomah di telinga kiri, maka ummu shibyan tidak akan membahayakannya.” (Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Ibnu Sunny dalam Al Yaum wal Lailah).
Ummu shibyan adalah jin (perempuan) yang dapat dilihat oleh bayi. Jika anda menjumpai seorang bayi yang tiba-tiba menengokkan kepalanya ke atap dan menangis dengan histeris, disitulah Ummu shibyan menampakkan dirinya kepada si bayi.
Lalu apa hubungannya mengadzani bayi dengan pendidikan?
Oke. Let's we discuss about it.
"Hai nak, jangan nakal ya... yang nurut ya..."
"Anakku yang ganteng.. Gak boleh rewel ya..."
"Uhhh Ganteng sekali anakku, semoga besok jadi dokter ya nak.."
"Hayo nak, gak boleh makan pakai tangan kiri ya.. harus pakai tangan kanan"
Secara umum, begitulah orang tua saat menimang si bayi.
Apa itu salah? tidak. itu tidak salah. harapannya baik dan kata-katanya baik.
Jika kita amati, konsep pendidikan orang tua seperti contoh di atas adalah pendidikan yang berkenaan dengan akhlak. Itu sangat baik.
Namun ada satu yang kita lupakan. Apa itu? Mengenalkan Allah dan Rasulnya (Tauhid) kepada si bayi.
Bukankah suara yang didengar bayi pertama kali saat ia lahir adalah "ALLAHU AKBAR" lewat adzan yang dikumandangkan oleh ayahandanya?. Sang Ayah pun juga mengajari si bayi untuk bersyahadat "ASYHADU ALLA ILAAHA ILLALLAH" dan "ASYHADU ANNAA MUHAMMADAN RASULULLAH" ? Bahkan jika kita cermati, seluruh kalimat adzan adalah berkenaan dengan TAUHID.
Jika kita tinjau lebih dalam lagi. Sebelum si bayi lahir alias masih berada di dalam kandungan. Si Bayi tersebut sudah diajak berkenalan dengan Allah. Simak Al Qur'an Surat Al-A'raf (surat ke-7) ayat 172 yang artinya:
"Dan saat Tuhanmu mengeluarkan anak cucu Adam dari tulang-tulang belakang mereka, dan Dia jadikan mereka saksi atas Nafs (anfus) mereka : ‘Bukankah Aku Tuhan kamu ?’ ; Mereka berkata : ‘Betul ! kami menyaksikan.’ ; Hal ini agar kamu tidak dapat berkata dihari kiamat : ‘Sungguh kami lalai dari perjanjian ini’."
"Allastu Birabbikum?"
"Balaa"
Ayat tersebut menjelaskan tentang persaksian bayi tentang kehambaanya kepada Allah sebagai Rabbnya. Jelas ini juga perkara tentang TAUHID.
Nah... Para Ayah dan Para Ibu, mari kita mendahulukan pendidikan Tauhid kepada anak kita sebelum mengajarkan Pendidikan Akhlak. Karena inilah yang membedakan seorang muslim dengan orang kafir. Jika ada dua orang, satu muslim dan satu non muslim, keduanya sama-sama mempunyai akhlak yang baik semisal suka menolong, mandiri, suka bersedekah, bijaksana, adil, dll. lalu apa yang membedakannya? TAUHID. itulah yang membedakannya.
Lalu bagaimana cara mengajarkan Pendidikan Tauhid kepada anak?
Untuk menjawab hal ini, penulis hanya dapat memberi saran berupa pengetahuan, bukan berupa pengalaman. Karena penulis juga belum mempunyai anak karena belum menikah. Hehehe. Afwan cuman intermeso.
Begini Caranya:
1. Senantiasa bacakan surat Al-Ikhlas kepada anak kita, saat menimangnya, saat menggendongnya, saat menemaninya sebelum tidur sempatkan baca surat Al-Ikhlas. Apa anak paham? tentu saja belum. Karena anak usia bayi tingkat kognitifnya masih rendah. Namun anak usia bayi mempunyai daya ingat yang tinggi lewat penglihatan dan pendengarannya. Jika ia sering mendengarkan surat Al Ikhlas di usia bayi maka insyaAllah kelak saat ia beranjak remaja, ia akan selalu mengingat Keesaan Allah dan meneguhkan ketauhidannya melalui surat Al Ikhlas.
2. Jika bayi sudah mulai bisa berbicara sepatah atau dua patah kata, tuntun dia untuk mengucapkan kata Allah dan Muhammad. Dengan begitu, si bayi akan terus mengucap kata "Allah". Udah kecil udah jadi ahli dzikir tuh. MasyaAllah ^_^
3. Jika anak sudah mulai bisa menghitung penjumlahan dan pengurangan. Ajarkan keesaan Allah lewat matematika. Gimana caranya? Oke simak penjelasan berikut.
"Nak.. Tau endak angka yang pertama kali muncul dan dapat menciptakan agnka yang lain itu angka berapa?"
"ehmm,, endak tau bun. 7 mungkin.. karena saya suka angka 7"
"owhh, 7 ya.. kenapa kok 7 angka yang pertama kali muncul nak?"
"Endak tau bun, adik cuma nebak karena 7 angka kesukaan adik bun"
"owh begitu, oke nak sekarang coba perhatikan bunda. 2+2 berapa nak?"
"4 lah bun"
"wahh pinter anak bunda. Oke sekarang kalau 2-2?"
"ya 0 lah bun.. adik kan paling jago matematika kalau di kelas hehe"
"wahh sip nak. tapi ndak boleh sombong yaa.. Oke berarti angka 2 itu bisa menciptakan angka berapa saja nak?
"angka 2 bisa mencipatakan angka 0 dan 4 bun"
"Oke, kalau dilanjutkan lagi. karena 4 sudah ada. jadi 4+2 berapa?"
"6 bun"
"sip. lalu bisa ndak angka 2 menciptakan angka 3 atau angka 5?"
"(berpikir) sepertinya ndak bisa bun"
"nah.. itu.. angka 2 ndak bisa menciptakan angka lain dengan lengkap. Lalu angka berapa yang bisa menciptakan angka 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,10?"
"ehmm.. adik nyerah bun"
"hehe, oke nak. Angka 1 nak jawabannya"
"emang bisa ya bun angka 1 menciptakan angka lain dengan lengkap?"
"1-1=?"
"0 bun"
"1+1="
"2 bun"
"karena udah muncul angka 2 maka 1+2=?"
"3 bun"
"1+3="
"4 bun. owh iya ya bun seterusnya pasti bisa itu bun. Wahh keren ya angka 1 bun"
"hehe. karena angka 1 itu memang spesial nak. Makanya yang bisa mencipatakan segala sesuatu itu ya yang 1 (Ahad). Allah nak. itulah alasannya kenapa Allah itu Esa. Allah itu Satu. Karena Allah memang Maha Pencipta".
"MasyaAllah bun. begitu bun ya.. Luar biasa Allah bun. Adik akan ajari teman sekolah adik tentang ini ya bun"
"Iya nak, ajarkan teman-temanmu mengenal Allah lewat Matematika"
(SELESAI)
hehehe. MasyaAllah. Cerita yang sangat mengharukan ya..
Ini semua masih berupa PENGETAHUAN jika kita mampu memahaminya. Dan ini akan menjadi ILMU jika kita mengamalkannya.
Selamat mengamalkan ya...
Afwan bila banyak kekurangan.
Semoga bermanfaat. aamiin.. :-)
Wassalamu'alaikum warahmatullah Wabarakatuh. ^_^