Selasa, 07 Oktober 2014
MENJADI DIRI SENDIRI
(YANG SEPERTI APA?)


Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Pada kesempatan ini saya akan menguraikan persepsi saya tentang "menjadi diri sendiri", tentunya tidak hanya persepsi tanpa dasar yang saya akan tuliskan di bawah ini. dan tentunya ada yang sependapat dan ada yang tidak sependapat tentang persepsi saya ini. untuk mengetahuinya, silahkan dibaca.
Banyak pro dan kontra tentang kalimat "menjadi diri sendiri", apakah kita harus menjadi diri sendiri? diri sendiri yang seperti apa?.
Sering sekali saya mendengar orang lain bicara "biarkan aku jadi diriku sendiri, ya inilah aku, aku memang pemarah". Apakah itu yang dimaksud menjadi diri sendiri? membiarkan sifat pemarahnya mendarah daging di tubuhnya. Apakah itu hal yang positif atau negatif? bagaimana pendapat anda?



Saya punya persepsi sendiri dengan kalimat "menjadi diri sendiri". Pertama, kita harus faham kita ini apa?. jawabannya kita semua pasti tahu, kita adalah "manusia". Lalu sebagai manusia, kita harus bagaimana?. Di dalam agama Islam ada seorang manusia yang sangat mulia, cerdas, akhlaknya sungguh tertata, kepemimpinannya sangat hebat, ibadahnya sangat istiqomah. Beliau adalah Rasulullah Muhammad SAW. Beliau adalah Rasul yang diutus Allah untuk "memanusiakan manusia", beliau adalah contoh/tauladan bagi kita semua, seperti yang telah dijelaskan dalam Al-Qur'an surat al-ahzab di bawah ini :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
[QS. Al-Ahzaab: 21]

Lalu apa makna sebenarnya dari "menjadi diri sendiri", ya artinya kita harus menjadi diri kita sendiri yaitu sebagai manusia yang sebenar-benarnya manusia, yaitu manusia yang mempunyai rasa kemanusiaan. Lantas bagaimana dengan sifat-sifat negatif kita seperti pemarah, pendendam, pembohong, dan lain-lain? ya sebisa mungkin kita harus meminimalisir sifat-sifat tersebut agar kita menjadi manusia yang benar-benar manusia, serta kita harus menjalankan sunnah-sunnah Rasulullah Muhammad SAW agar kita tertular sifat-sifat beliau.

Salah satu suri tauladan dari Rasulullah SAW yang dapat kita petik dan kita contoh adalah cara kepemimpinan beliau serta jiwa guru yang ada dalam diri beliau. menjadi diri sendiri" Setiap manusia adalah guru, berarti jika dihubungkan dengan kalimat "menjadi diri sendiri" artinya setiap manusia haruslah mempunyai jiwa guru, baik guru untuk membimbing diri sendiri maupun untuk membimbing orang lain.


Selain itu, Allah juga menjelaskan tentang tujuan penciptaan manusia, seperti yang tertulis pada ayat Al-Qur'an di bawah ini :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya:
Yang menciptakan kematian dan kehidupan supaya Dia menguji kalian siapakah yang lebih di antara kalian amalnya? Dan Dia Maha Perkasa Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk : 2).

Sebagai manusia yang menjadi diri sendiri yaitu sebagai manusia yang sebenar-benarnya manusia, kita harus benar-benar memahami tujuan Allah menciptakan kita. Seperti yang tertulis pada ketiga ayat Al-Qur'an di atas, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, untuk diuji, dan juga untuk menjadi khalifah di bumi.
 
Jadi kesimpulannya, setiap manusia harus menjadi dirinya sendiri, yaitu manusia yang sebenar-benarnya manusia, manusia yang benar-benar memahami tujuan diciptakannya dirinya serta menjalankannya. Bukan manusia yang membiarkan sifat negatif yang ada pada dirinya mendarah daging, melainkan sifat negatif tersebut harus diperbaiki secara bertahap sedikit demi sedikit sampai akhirnya kita bisa menjadi diri sendiri. Ya meskipun tidak akan bisa kita menjadi orang yang sempurna seperti Rasulullah Muhammad SAW tetapi kita bisa mendekati kesempurnaan tersebut dengan cara menjadikan diri kita sebagai pribadi yang tidak hanya pintar tetapi juga berakhlakul kharimah.

Jangan hanya menjadi apa adanya dirimu, tapi jadilah yang lebih dari dirimu dan orang lain dengan cara meningkatkan apa yang ada pada dirimu.
(Mohammad Yusuf Efendi)


Sekian dari saya, semoga bermanfaat bagi pembaca.
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.


0 komentar:

Posting Komentar