Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pada kesempatan kali ini saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman saya yang pernah saya alami sendiri dan terkadang sampai sekarang saya masih tidak percaya kalau hal itu benar-benar terjadi. Salah satu hal yang paling membuat saya sampai saat ini masih berfikir antara percaya atau tidak yaitu berhasil masuk menjadi mahasiswa di STKIP AL-HIKMAH Surabaya.
Alasan Memilih Pendidikan Matematika
Dari semenjak saya kelas 12 SMK saya ingin melanjutkan kuliah di jurusan Pendidikan Matematika, saya ingin menjadi guru karena terinspirasi dan terenyuh saat ikut seminar sebelum UNAS yang diselenggarakan di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, disitu dipaparkan tentang problematika pendidikan di Indonesia dan dibandingkan dengan Negara lain, dan hasilnya sangat berbeda jauh sekali, di Indonesia masih sangat banyak kecurangan di dunia pendidikan dan lebih parahnya kecurangan tersebut mayoritas dilakukan/dicontohkan oleh guru. Dari situlah hati saya mulai terpanggil untuk menjadi guru yang dapat dicontoh dan dapat membenahi pendidikan di Indonesia ini.
Dan kenapa saya memilih MATEMATIKA yang pada masa sekolah sangat dipandang sebagai mata pelajaran yang menakutkan dan banyak murid yang enggan jika hendak belajar matematika. Jawabannya adalah saya ingin merubah pandangan murid-murid di Indonesia ini tentang matematika yang dirasa sulit menjadi matematika yang menyenangkan, selain itu saat mengikuti tes minat bakat ternyata hasilnya saya cocok jika menjadi guru matematika.
Kegalauan Untuk Masuk Ke Perguruan Tinggi
Tetapi untuk mewujudkan hal tersebut cukup berat karena background saya adalah murid SMK Teknik Elektronika, padahal seperti kita tahu pelajaran matematika di SMK adalah hanya matematika dasar, berbeda dengan di SMA IPA yang memang mempelajari matematika lebih dalam dan terperinci, meskipun begitu pada saat mendaftar SNMPTN saya nekat memilih Matematika ITS, Elektro ITS, Pend.Matematika UINSA dan Pend.Agama Islam UINSA sungguh itu semua pilihan yang sebenarnya sudah pasti tahu jawabannya bahwa saya pasti ditolak mentah-mentah dan alhasil memang benar di SNMPTN saya gagal.
Hasil tersebut sebenarnya sempat membuat saya pesimis untuk melanjutkan pendidikan saya ke perguruan tinggi, tetapi dalam benak saya ada fikiran seperti ini "hasil SNMPTN kan hanya dilihat dari nilai dan sekolah yang saya tempati, bagaimana kalau saya mencoba untuk ikut tes tulis, pasti hasilnya lebih objektif". Dari situ akhirnya ada sedikit rasa optimisme pada diri saya, dan akhirnya saya mencoba mengikuti SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang diadakan oleh regional UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya), dai UINSA pada pilihan pertama saya memilih Pend. Matematika, pilihan kedua Pend. Agama Islam dan pilihan ketiga saya adalah Politik Islam yang sebenarnya saya tidak seberapa berminat dengan jurusan itu.
Saya juga mengikuti pelatihan tes yang diselenggarakan oleh UINSA sebelum menghadapi SPMB tersebut dengan harapan agar mempunyai bekal lebih saat mengerjakan tes. Alangkah kagetnya saya ternyata di dalam SPMB UINSA juga ada tes BAHASA ARAB, padahal saya tidak pernah belajar bahasa arab sama sekali, lantas mau bagaimana lagi ya harus terpaksa saya kerjakan dengan sepengetahuan saya serta menurut feeling.
Setelah 2 minggu menunggu hasil tes tersebut, akhirnya hasilnya sudah keluar dan saya berhasil di terima di UINSA tetapi di jurusan Politik Islam yang tidak begitu saya minati, dari situ saya bimbang "apa saya harus kuliah dengan jurusan yang tidak saya minati", sambil menunggu waktu daftar ulang tiba, saya mencoba mencari lowongan-lowongan SPMB lain di Universitas Swasta, dan saya akhirnya ikut tes di salah satu universitas swasta di Surabaya dengan pilihan Pend.Matematika dan saya diterima, tetapi biaya disana sangat mahal sedangkan pada saat itu kondisi ekonomi keluarga sedang sulit.
Setelah melewati hari-hari sambil terus berfikir universitas mana yang saya masuki ternyata ayah saya dapat telefon dari sekolah SMK saya dan Waka Kurikulum sekolah saya itu menawari saya untuk ikut tes masuk kuliah program beasiswa D1 di salah satu politeknik terkenal di Surabaya, disitu Waka Kurikulum saya bercerita kalau saya berhasil masuk kuliah disitu kemungkinan besar setelah lulus dari situ saya akan langsung mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan Negara yang bekerjasama dengan politeknik tersebut pada program beasiswa itu. Dan meskipun sebenarnya saya tidak terlalu berminat karena jurusannya disitu adalah Teknik Elektro tapi saya tetap mengikuti tesnya. Oh iya perlu diketahui bahwa meskipun saya lulusan SMK Teknik Elektro tapi sebenarnya saya kurang berminat pada elktronika, entah apa alasannya mungkin karena tidak cocok dengan kepribadian serta bakat saya.
Dan ternyata saya diterima di situ, saya merasa bangga karena dapat diterima di salah satu Politeknik Negeri terkenal di Indonesia dengan status beasiswa + uang saku tiap bulannya. Tetapi disisi lain ada rasa kurang enak karena lagi-lagi jurusannya kurang begitu saya minati.
Akhirnya satu bulan setelah itu saya berfikir mana yang harus saya pilih, Politik Islam UINSA dengan lingkungannya yang Islami, Pend.Matematika di salah satu Universitas Swasta tetapi biayanya mahal, atau Kuliah D1 beasiswa di Politeknik Negeri yang terkenal tetapi jurusan elektronika yang kurang begitu saya minati. saat itulah kegalauan datang pada kehidupanku..
Kemudian setelah 2 minggu saya berfikir dan kemudian berkonsultasi dengan ayah saya ternyata keputusannya adalah saya disuruh masuk kuliah D1 beasiswa dengan alasan itu gratis dan dapat uang saku serta melihat backgroundku dari SMK dan kesempatan kerja terjamin. Akhirnya ya saya turuti keputusan ayah saya tersebut,.
Setelah melewati hari-hari sambil terus berfikir universitas mana yang saya masuki ternyata ayah saya dapat telefon dari sekolah SMK saya dan Waka Kurikulum sekolah saya itu menawari saya untuk ikut tes masuk kuliah program beasiswa D1 di salah satu politeknik terkenal di Surabaya, disitu Waka Kurikulum saya bercerita kalau saya berhasil masuk kuliah disitu kemungkinan besar setelah lulus dari situ saya akan langsung mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan Negara yang bekerjasama dengan politeknik tersebut pada program beasiswa itu. Dan meskipun sebenarnya saya tidak terlalu berminat karena jurusannya disitu adalah Teknik Elektro tapi saya tetap mengikuti tesnya. Oh iya perlu diketahui bahwa meskipun saya lulusan SMK Teknik Elektro tapi sebenarnya saya kurang berminat pada elktronika, entah apa alasannya mungkin karena tidak cocok dengan kepribadian serta bakat saya.
Dan ternyata saya diterima di situ, saya merasa bangga karena dapat diterima di salah satu Politeknik Negeri terkenal di Indonesia dengan status beasiswa + uang saku tiap bulannya. Tetapi disisi lain ada rasa kurang enak karena lagi-lagi jurusannya kurang begitu saya minati.
Akhirnya satu bulan setelah itu saya berfikir mana yang harus saya pilih, Politik Islam UINSA dengan lingkungannya yang Islami, Pend.Matematika di salah satu Universitas Swasta tetapi biayanya mahal, atau Kuliah D1 beasiswa di Politeknik Negeri yang terkenal tetapi jurusan elektronika yang kurang begitu saya minati. saat itulah kegalauan datang pada kehidupanku..
Kemudian setelah 2 minggu saya berfikir dan kemudian berkonsultasi dengan ayah saya ternyata keputusannya adalah saya disuruh masuk kuliah D1 beasiswa dengan alasan itu gratis dan dapat uang saku serta melihat backgroundku dari SMK dan kesempatan kerja terjamin. Akhirnya ya saya turuti keputusan ayah saya tersebut,.
Kesempatan Emas Berada di Ujung Tanduk
Kuliah di Politeknik Negeri yang terkenal tak hanya di Surabaya saja tetapi dikenal sampai ke Asia bahkan Dunia karena sering menjuarai kontes robot dunia itu memang sesuatu kebanggaan tersendiri walaupun cuman D1. Atmosfir yang ada di sana memang begitu terasa, ya seperti orang-orang teknik biasanya mahasiswa disana kebanyakan bertipikal keras, tegas, disiplin serta dipenuhi dengan ide-ide kreatif.
Pada 1 semester awal saya kuliah disana pada waktu itu, saya mendapatkan teman satu kelas yang sangat asyik, mereka pintar serta cerdas. Tapi meskipun begitu setiap dari mereka mempunyai keunikan sendiri-sendiri, misal Arya yang selalu tampil dengan necis, pakaian, sepatu serta peralatan yang dipakainya kebanyakan selalu branded, lalu ada Sandi yang berani mengambil keputusan walau memang terkadang keputusannya ada yang salah tetapi dia berani bertanggung jawab atas konsekwensinya, ada pula Faisal yang ciri khasnya dia malas untuk mencatat tapi ingatannya sangat kuat, Lalu ada pula Wahyu yang orangnya sangat woles, disaat semuanya ribut mengerjakan tugas dia adalah orang yang paling santai bahkan ketika mengumpulkan tugas terlambat pun dia maju dengan PD dan santai, dan banyak lagi teman-teman saya yang unik.
Tak terasa kami semua sudah menginjak semester 2, kami semua dihaja tugas yang sangat padat sampai sering saya menginap di kosan teman saya untuk mengerjakan tugas sampai lembur dini hari namun kami semua have fun saat mengerjakan tugas bersama karena selalu ada canda tawa di dalamnya. Hampir 2 bulan kami jalani di semester 2 saya mulai berfikir tentang kelanjutan saya ketika saya sudah lulus dari sana, apakah saya harus melupakan kuliah di jurusan Pend. Matematika yang saya idam-idamkan dari dulu dan mengambil peluang kerja yang terbuka lebar atau malah sebaliknya. Dari situ saya mulai berdiskusi kembali dengan ayah saya, tanggapan ayah saya "kamu kuliah saja tidak apa-apa kalau itu memang maumu, nanti masalah biaya biar ayah yang mikirin". Mendengar kata-kata itu saya merasa tidak tega karena takut menyusahkan orang tua, dan dari situ saya mulai mencari perguruan tinggi di daerah Jawa Timur yang membuka jalur beasiswa, dan setelah lama mencari hasilnya ternyata minim dan masih banyak keraguan tentang kabar beasiswanya. Saya mulai patah semangat dan sering melamun di kelas kuliah dan sampai akhirnya saya sering curhat tentang kegalauan ini ke teman-teman saya, banyak yang menanggapinya dengan positif dan akhirnya sampai suatu hari teman saya yang bernama Nur Achmad Yani memberi info ke saya kalau ada perguruan tinggi swasta yang baru dibuka dan perguruan tinggi tersebut menawarkan program beasiswa 100% serta pondok yang mendidik kita untuk menghafal Al-Qur'an dan yang paling penting ada jurusan Pendidikan Matematika. Mendengar kesempatan emas itu badan ini rasanya seperti 1000 kali lipat lebih bertenaga. Saya mencari info lewat internet dan membuka website perguruan tinggi tersebut dan saya baca persyaratan serta kelengkapan pendaftarannya, TAPI di baris paling bawah tertera bahwa pendaftaran sudah ditutup 2 hari yang lalu dan nama-nama orang yang lolos seleksi tahap awal sudah tertera di website. Dari situ tubuh ini menjadi kembali lemas tak berdaya, rasanya seperti ketika sudah terbang jauh tinggi dan ternyata jatuh di dasar jurang.
Allah Maha Mendengar
Yahh setelah tahu bahwa pendaftaran sudah ditutup pada 2 hari kemarin setelah saya membaca info di website saya hanya bisa berdo'a kepada Allah SWT agar ditunjukkan jalan yang terbaik bagi saya. Dan saya masih terus berusaha untuk terus bertanya kepada teman saya yang bernama Nur Achmad Yani yang memberi info itu kepada saya, "Yan ternyata waktu pendatarannya sudah ditutup yan, terakhir 3 hari kemarin", Yani pun menjawab "Lho beneran suf? aku dapat SMS dari guruku sekitar 4 hari kemarin", Lalu saya meminta Yani untuk sms ke gurunya yang memberi info tersebut apakah benar pendaftarannya sudah ditutup.
Setelah Yani sms gurunya tersebut ternyata masih belum dibalas sampai kami berdua mau pulang ke rumah masing-masing, dan akhirnya saya meminta nomor telefon gurunya tersebut kemudian saya sms dan ternyata baru dibalas pada saat malam harinya, pada sms pertama saya bertanya "Assalamu'alaikum, maaf apakah ini Pak Faisol? saya Yusuf temannya Yani mau bertanya tentang pendaftaran di STKIP AL-HIKMAH" dan beliau menjawab "Wa'alaikum salam, iya mau tanya apa mas?", saya langsung membalas "apakah pendaftarannya memang benar sudah ditutup?", beberapa waktu kemudian beliau menjawab "yang ditutup pendafaran gelombang pertama mas, sekarang buka gelombang ke-2 sampai 3 hari besok terakhir", mendengar jawaban tersebut saya rasanya seperti terbang kembali dan langsung banyak bertanya kepada pak Faisol tersebut bagaimana cara mendaftarnya, apa saja persyaratannya, kapan tesnya, dll. Setelah saya mendapatkan jawaban yang konkrit dari pak Faisol, saya langsung bergegas memberi tahu kabar baik ini kepada ayah saya dan kemudian langsung mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar disana. Saya fikir ini adalah jawaban Allah atas do'aku, hal yang tidak terduga dapat terjadi begitu saja dan ya saya yakin bahwa Allah memang Maha Mendengar, tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Allah meskipun aku belum ikut tes dan belum tentu diterima disana tapi paling tidak ada sedikit harapan yang muncul di hadapanku saat itu. Terimakasih ya Allah..
Ketika Pesimis Mengetuk Pintu Hati Kembali
Setelah berkas-berkas yang dibutuhkan untuk proses pendaftaran sudah lengkap, saya langsung membawanya ikut pergi kuliah di Politeknik, rencana saya pada saat itu memang izin 1 kali pertemuan mata kuliah PLC (Progammable Logic Controller) untuk pergi menyerahkan berkas-berkas pendaftaran ke kantor sekretariat STKIP AL-HIKMAH. Ternyata dosennya pada saat itu terlambat masuk, karena dikejar waktu saya tanpa izin langsung berangkat ke kantor sekretariat STKIP AL-HIKMAH bersama teman SMK saya. Setelah sampai disana berkas saya sudah diterima dan 3 hari selanjutnya adalah tes tulis.
Tes tulisnya terdiri dari Tes Matematika dengan format 15 soal pilihan ganda, 10 soal uraian tanpa cara, 5 soal uraian dengan cara, kemudian Psikotest,tes koran, tes gambar visual, dan tes potensi akademik. Saya mengerjakan tes tersebut dengan percaya diri walaupun sebenarnya saya merasa kesulitan saat mengerjakan soal tersebut karena soal matematikanya setingkat SMA IPA sedangkan saya yang lulusan SMK hanya bisa mengerjakan soal yang relatif mudah, kemudian saat tes gambar visual saya tidak seberapa bisa karena saya memang tidak suka menggambar. Yang saya yakin point saya mendapatkan nilai cukup tinggi adalah psikotest, tes potensi akademik, dan tes koran. Setelah semua rangkain tes terlewati akhirnya saya pulang ke rumah dengan raut muka sedikit memelas karena pesimis dengan jawaban saya saat tes tadi.
Kepercayaan Dapat Mendatangkan Keajaiban
Sesampai di rumah, saya disambut oleh orang tua saya, mereka bertanya "bagaimana tesnya tadi?", dengan raut wajah yang sedikit turun kebawah saya menjawab "yaahh alhamdulillah 50% mungkin", ayah saya langsung menepuk-nepuk bahu saya sambil mengatakan "kalau memang kamu yakin ini jalanmu nak percayalah Allah akan membuat keajaiban", kata-kata itu langsung membuat mata ini berkaca-kaca, sambil salim ke tangan ayah saya bilang "Aamiin" secara lirih.
kata-kata ayahku tadi selalu terngiang-ngiang di fikiranku, setiap sesudah shalat aku selalu berdo'a "Ya Allah jika ini memang jalanku mohon dekatkanlah, dan jika memang tidak hamba mohon beri hamba jalan yang lebih baik lagi, tetapi hamba yakin dengan pilihan hamba ini ya Allah mohon datangkan sepercik keajaiban", saat merenung, melamun, menyendiri saya selalu berdo'a seperti itu kepada Allah. Sampai akhirnya telah tiba pengumuman lolos seleksi tes tulis yang dipublikasikan di web STKIP AL-HIKMAH, saat membuka laptop dan mengaktifkan koneksi internet saya sudah berdo'a berulang kali dan saya sengaja tidak memberi tahu orang tua saya kalau pada hari itu adalah pengumuman hasil tes tulis, kemudian saya membuka web STKIP AL-HIKMAH kemudian ada tulisan disitu "pengumuman hasil seleksi tahap pertama", dengan hati dag-dig-dug saya mengklik tulisan itu dan muncul nama-nama anak yang lolos, dan ternyata secara mengagetkan nama saya ada disitu tepat di nomor 10, aku sempat tidak percaya sampai-sampai saya mereload laman web tersebut dan ternyata benar saya lolos tes tahap pertama, sungguh sangat berguncang hati ini dan saya langsung memberi tahu orang tua saya tentang ini.
Dan tes tahap kedua pun sudah siap satu minggu lagi, saya tidak mempersiapkan apa-apa karena tes tahap 2 adalah tes wawancara yang biasanya hanya ditanya secara lisan saja. Dan pada hari H saya datang ke kantor sekretariat STKIP AL-HIKMAH dengan mengendarai sepeda motor astrea grand saya yang saya beri nama grandy serta memakai kemeja lengan panjang warna biru, celana jeans biru yang sering saya pakai kuliah, dan sepatu safety yang diberi oleh Perusahaan yang bekerjasama oleh Politeknik. Sesampai disana saya kaget melihat penampilan anak-anak lain yang memakai baju seragam sekolah, memakai baju muslim, dan memakai celana kain serta kemeja lengan panjang dan ada yang membawa Al-Qur'an. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan penampilan saya pada waktu itu, di situ saya hanya duduk sendiri sambil membaca Al-Qur'an yang ada di handphone saya sambil berfikir "ini tes wawancaranya ngapain aja ya, apa ada tes ngaji dan hafalannya juga, kok mayoritas anak membaca Al-Qur'an sambil merem untuk berkonsentrasi menghafalkannya", dan sampai akhirnya tiba saatnya nama saya dipanggil untuk masuk ke ruang tes wawancara, dan singkat cerita ternyata memang benar ada tes mengaji dan hafalan Al-Qur'an, ya akhirnya saya hanya membaca semampu saya saja.
Dan karena kejadian itu pesimisme yang begitu besar datang kembali lagi ke diri ini, bahkan ada mindset di otak bahwa aku tidak bakal diterima karena pakai kostum yang mungkin kurang sopan menurut lingkungan Islami disana selain itu karena kemampuanku dalam membaca Al-Qur'an masih kurang, serta belum mempunyai hafalan Al Qur'an. Tetapi kata-kata dari ayahku yang dulu itu muncul kembali seolah-olah bagaikan perisai yang mencegah pesimisme itu masuk, "YAKINLAH! YAKINLAH PADA DIRIMU DAN YAKINLAH PADA ALLAH KARENA KEYAKINAN AKAN MENDATANGKAN KEAJAIBAN" kata-kata itu terus yang masuk dalam fikiranku dan membuat hati ini merasa lebih tenang.
Dan akhirnya pengumuman hasil tes wawancara keluar, sesudah sholat shubuh saya langsung membuka website STKIP AL-HIKMAH dan ada link "hasil seleksi tes wawancara" tanpa basa-basi langsung saya klik, perasaan saya pada waktu itu sungguh tidak karuan, ada rasa saling bertolak belakang antara optimisme dengan pesimisme, dan setelah saya buka hasilnya saya mulai mengurut nama-nama yang lolos mulai dari atas dan terus menerus menuju ke bawah ternyata nama MOHAMMAD YUSUF EFENDI masih belum tampak, sampai akhirnya pada lembar kedua di paling akhir sendiri ternyata nama itu ada, sambil mengucek-ngucek mata saya melihat kembali layar monitor laptop ternyata memang benar itu nama saya, langsung seketika saya sujud syukur karena mendapatkan kenikmatan dan keajaiban dari Allah SWT yang sangat besar itu. Dan sangat senang sekali wajah orang tua saya saat saya memberi tahu mereka tentang kabar gembira ini.
Dan akhirnya saya berhasil masuk perguruan tinggi yang sesuai dengan keinginan saya, S1 Pendidikan Matematika plus Mondok dan Beasiswa 100%. Sungguh nikmat yang sangat besar sekali dari Allah. Dan sampai saat ini saya kuliah di STKIP AL-HIKMAH Surabaya dengan semangat menjadi guru pejuang abad-21, dengan lingkungan yang mendukung serta dosen-dosen yang berkualitas tinggi saya yakin dapat menjadi guru pejuang yang hebat.
Ya kurang lebih seperti itu lah kisah saya dalam memperjuangkan keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang saya minati, semoga dapat menginspirasi dan memotivasi diri saya sendiri khususnya dan umumnya kepada para pembaca.
-THERE CAN BE MIRACLES WHEN YOU BELIEVE, BELIEVE BY YOUR SELF AND BELIEVE TO ALLAH-
Terima kasih... Wassalamu'alaikum :-)
Kuliah di Politeknik Negeri yang terkenal tak hanya di Surabaya saja tetapi dikenal sampai ke Asia bahkan Dunia karena sering menjuarai kontes robot dunia itu memang sesuatu kebanggaan tersendiri walaupun cuman D1. Atmosfir yang ada di sana memang begitu terasa, ya seperti orang-orang teknik biasanya mahasiswa disana kebanyakan bertipikal keras, tegas, disiplin serta dipenuhi dengan ide-ide kreatif.
Pada 1 semester awal saya kuliah disana pada waktu itu, saya mendapatkan teman satu kelas yang sangat asyik, mereka pintar serta cerdas. Tapi meskipun begitu setiap dari mereka mempunyai keunikan sendiri-sendiri, misal Arya yang selalu tampil dengan necis, pakaian, sepatu serta peralatan yang dipakainya kebanyakan selalu branded, lalu ada Sandi yang berani mengambil keputusan walau memang terkadang keputusannya ada yang salah tetapi dia berani bertanggung jawab atas konsekwensinya, ada pula Faisal yang ciri khasnya dia malas untuk mencatat tapi ingatannya sangat kuat, Lalu ada pula Wahyu yang orangnya sangat woles, disaat semuanya ribut mengerjakan tugas dia adalah orang yang paling santai bahkan ketika mengumpulkan tugas terlambat pun dia maju dengan PD dan santai, dan banyak lagi teman-teman saya yang unik.
Tak terasa kami semua sudah menginjak semester 2, kami semua dihaja tugas yang sangat padat sampai sering saya menginap di kosan teman saya untuk mengerjakan tugas sampai lembur dini hari namun kami semua have fun saat mengerjakan tugas bersama karena selalu ada canda tawa di dalamnya. Hampir 2 bulan kami jalani di semester 2 saya mulai berfikir tentang kelanjutan saya ketika saya sudah lulus dari sana, apakah saya harus melupakan kuliah di jurusan Pend. Matematika yang saya idam-idamkan dari dulu dan mengambil peluang kerja yang terbuka lebar atau malah sebaliknya. Dari situ saya mulai berdiskusi kembali dengan ayah saya, tanggapan ayah saya "kamu kuliah saja tidak apa-apa kalau itu memang maumu, nanti masalah biaya biar ayah yang mikirin". Mendengar kata-kata itu saya merasa tidak tega karena takut menyusahkan orang tua, dan dari situ saya mulai mencari perguruan tinggi di daerah Jawa Timur yang membuka jalur beasiswa, dan setelah lama mencari hasilnya ternyata minim dan masih banyak keraguan tentang kabar beasiswanya. Saya mulai patah semangat dan sering melamun di kelas kuliah dan sampai akhirnya saya sering curhat tentang kegalauan ini ke teman-teman saya, banyak yang menanggapinya dengan positif dan akhirnya sampai suatu hari teman saya yang bernama Nur Achmad Yani memberi info ke saya kalau ada perguruan tinggi swasta yang baru dibuka dan perguruan tinggi tersebut menawarkan program beasiswa 100% serta pondok yang mendidik kita untuk menghafal Al-Qur'an dan yang paling penting ada jurusan Pendidikan Matematika. Mendengar kesempatan emas itu badan ini rasanya seperti 1000 kali lipat lebih bertenaga. Saya mencari info lewat internet dan membuka website perguruan tinggi tersebut dan saya baca persyaratan serta kelengkapan pendaftarannya, TAPI di baris paling bawah tertera bahwa pendaftaran sudah ditutup 2 hari yang lalu dan nama-nama orang yang lolos seleksi tahap awal sudah tertera di website. Dari situ tubuh ini menjadi kembali lemas tak berdaya, rasanya seperti ketika sudah terbang jauh tinggi dan ternyata jatuh di dasar jurang.
Allah Maha Mendengar
Yahh setelah tahu bahwa pendaftaran sudah ditutup pada 2 hari kemarin setelah saya membaca info di website saya hanya bisa berdo'a kepada Allah SWT agar ditunjukkan jalan yang terbaik bagi saya. Dan saya masih terus berusaha untuk terus bertanya kepada teman saya yang bernama Nur Achmad Yani yang memberi info itu kepada saya, "Yan ternyata waktu pendatarannya sudah ditutup yan, terakhir 3 hari kemarin", Yani pun menjawab "Lho beneran suf? aku dapat SMS dari guruku sekitar 4 hari kemarin", Lalu saya meminta Yani untuk sms ke gurunya yang memberi info tersebut apakah benar pendaftarannya sudah ditutup.
Setelah Yani sms gurunya tersebut ternyata masih belum dibalas sampai kami berdua mau pulang ke rumah masing-masing, dan akhirnya saya meminta nomor telefon gurunya tersebut kemudian saya sms dan ternyata baru dibalas pada saat malam harinya, pada sms pertama saya bertanya "Assalamu'alaikum, maaf apakah ini Pak Faisol? saya Yusuf temannya Yani mau bertanya tentang pendaftaran di STKIP AL-HIKMAH" dan beliau menjawab "Wa'alaikum salam, iya mau tanya apa mas?", saya langsung membalas "apakah pendaftarannya memang benar sudah ditutup?", beberapa waktu kemudian beliau menjawab "yang ditutup pendafaran gelombang pertama mas, sekarang buka gelombang ke-2 sampai 3 hari besok terakhir", mendengar jawaban tersebut saya rasanya seperti terbang kembali dan langsung banyak bertanya kepada pak Faisol tersebut bagaimana cara mendaftarnya, apa saja persyaratannya, kapan tesnya, dll. Setelah saya mendapatkan jawaban yang konkrit dari pak Faisol, saya langsung bergegas memberi tahu kabar baik ini kepada ayah saya dan kemudian langsung mempersiapkan berkas-berkas untuk mendaftar disana. Saya fikir ini adalah jawaban Allah atas do'aku, hal yang tidak terduga dapat terjadi begitu saja dan ya saya yakin bahwa Allah memang Maha Mendengar, tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada Allah meskipun aku belum ikut tes dan belum tentu diterima disana tapi paling tidak ada sedikit harapan yang muncul di hadapanku saat itu. Terimakasih ya Allah..
Ketika Pesimis Mengetuk Pintu Hati Kembali
Setelah berkas-berkas yang dibutuhkan untuk proses pendaftaran sudah lengkap, saya langsung membawanya ikut pergi kuliah di Politeknik, rencana saya pada saat itu memang izin 1 kali pertemuan mata kuliah PLC (Progammable Logic Controller) untuk pergi menyerahkan berkas-berkas pendaftaran ke kantor sekretariat STKIP AL-HIKMAH. Ternyata dosennya pada saat itu terlambat masuk, karena dikejar waktu saya tanpa izin langsung berangkat ke kantor sekretariat STKIP AL-HIKMAH bersama teman SMK saya. Setelah sampai disana berkas saya sudah diterima dan 3 hari selanjutnya adalah tes tulis.
Tes tulisnya terdiri dari Tes Matematika dengan format 15 soal pilihan ganda, 10 soal uraian tanpa cara, 5 soal uraian dengan cara, kemudian Psikotest,tes koran, tes gambar visual, dan tes potensi akademik. Saya mengerjakan tes tersebut dengan percaya diri walaupun sebenarnya saya merasa kesulitan saat mengerjakan soal tersebut karena soal matematikanya setingkat SMA IPA sedangkan saya yang lulusan SMK hanya bisa mengerjakan soal yang relatif mudah, kemudian saat tes gambar visual saya tidak seberapa bisa karena saya memang tidak suka menggambar. Yang saya yakin point saya mendapatkan nilai cukup tinggi adalah psikotest, tes potensi akademik, dan tes koran. Setelah semua rangkain tes terlewati akhirnya saya pulang ke rumah dengan raut muka sedikit memelas karena pesimis dengan jawaban saya saat tes tadi.
Kepercayaan Dapat Mendatangkan Keajaiban
Sesampai di rumah, saya disambut oleh orang tua saya, mereka bertanya "bagaimana tesnya tadi?", dengan raut wajah yang sedikit turun kebawah saya menjawab "yaahh alhamdulillah 50% mungkin", ayah saya langsung menepuk-nepuk bahu saya sambil mengatakan "kalau memang kamu yakin ini jalanmu nak percayalah Allah akan membuat keajaiban", kata-kata itu langsung membuat mata ini berkaca-kaca, sambil salim ke tangan ayah saya bilang "Aamiin" secara lirih.
kata-kata ayahku tadi selalu terngiang-ngiang di fikiranku, setiap sesudah shalat aku selalu berdo'a "Ya Allah jika ini memang jalanku mohon dekatkanlah, dan jika memang tidak hamba mohon beri hamba jalan yang lebih baik lagi, tetapi hamba yakin dengan pilihan hamba ini ya Allah mohon datangkan sepercik keajaiban", saat merenung, melamun, menyendiri saya selalu berdo'a seperti itu kepada Allah. Sampai akhirnya telah tiba pengumuman lolos seleksi tes tulis yang dipublikasikan di web STKIP AL-HIKMAH, saat membuka laptop dan mengaktifkan koneksi internet saya sudah berdo'a berulang kali dan saya sengaja tidak memberi tahu orang tua saya kalau pada hari itu adalah pengumuman hasil tes tulis, kemudian saya membuka web STKIP AL-HIKMAH kemudian ada tulisan disitu "pengumuman hasil seleksi tahap pertama", dengan hati dag-dig-dug saya mengklik tulisan itu dan muncul nama-nama anak yang lolos, dan ternyata secara mengagetkan nama saya ada disitu tepat di nomor 10, aku sempat tidak percaya sampai-sampai saya mereload laman web tersebut dan ternyata benar saya lolos tes tahap pertama, sungguh sangat berguncang hati ini dan saya langsung memberi tahu orang tua saya tentang ini.
Dan tes tahap kedua pun sudah siap satu minggu lagi, saya tidak mempersiapkan apa-apa karena tes tahap 2 adalah tes wawancara yang biasanya hanya ditanya secara lisan saja. Dan pada hari H saya datang ke kantor sekretariat STKIP AL-HIKMAH dengan mengendarai sepeda motor astrea grand saya yang saya beri nama grandy serta memakai kemeja lengan panjang warna biru, celana jeans biru yang sering saya pakai kuliah, dan sepatu safety yang diberi oleh Perusahaan yang bekerjasama oleh Politeknik. Sesampai disana saya kaget melihat penampilan anak-anak lain yang memakai baju seragam sekolah, memakai baju muslim, dan memakai celana kain serta kemeja lengan panjang dan ada yang membawa Al-Qur'an. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan penampilan saya pada waktu itu, di situ saya hanya duduk sendiri sambil membaca Al-Qur'an yang ada di handphone saya sambil berfikir "ini tes wawancaranya ngapain aja ya, apa ada tes ngaji dan hafalannya juga, kok mayoritas anak membaca Al-Qur'an sambil merem untuk berkonsentrasi menghafalkannya", dan sampai akhirnya tiba saatnya nama saya dipanggil untuk masuk ke ruang tes wawancara, dan singkat cerita ternyata memang benar ada tes mengaji dan hafalan Al-Qur'an, ya akhirnya saya hanya membaca semampu saya saja.
Dan karena kejadian itu pesimisme yang begitu besar datang kembali lagi ke diri ini, bahkan ada mindset di otak bahwa aku tidak bakal diterima karena pakai kostum yang mungkin kurang sopan menurut lingkungan Islami disana selain itu karena kemampuanku dalam membaca Al-Qur'an masih kurang, serta belum mempunyai hafalan Al Qur'an. Tetapi kata-kata dari ayahku yang dulu itu muncul kembali seolah-olah bagaikan perisai yang mencegah pesimisme itu masuk, "YAKINLAH! YAKINLAH PADA DIRIMU DAN YAKINLAH PADA ALLAH KARENA KEYAKINAN AKAN MENDATANGKAN KEAJAIBAN" kata-kata itu terus yang masuk dalam fikiranku dan membuat hati ini merasa lebih tenang.
Dan akhirnya pengumuman hasil tes wawancara keluar, sesudah sholat shubuh saya langsung membuka website STKIP AL-HIKMAH dan ada link "hasil seleksi tes wawancara" tanpa basa-basi langsung saya klik, perasaan saya pada waktu itu sungguh tidak karuan, ada rasa saling bertolak belakang antara optimisme dengan pesimisme, dan setelah saya buka hasilnya saya mulai mengurut nama-nama yang lolos mulai dari atas dan terus menerus menuju ke bawah ternyata nama MOHAMMAD YUSUF EFENDI masih belum tampak, sampai akhirnya pada lembar kedua di paling akhir sendiri ternyata nama itu ada, sambil mengucek-ngucek mata saya melihat kembali layar monitor laptop ternyata memang benar itu nama saya, langsung seketika saya sujud syukur karena mendapatkan kenikmatan dan keajaiban dari Allah SWT yang sangat besar itu. Dan sangat senang sekali wajah orang tua saya saat saya memberi tahu mereka tentang kabar gembira ini.
Dan akhirnya saya berhasil masuk perguruan tinggi yang sesuai dengan keinginan saya, S1 Pendidikan Matematika plus Mondok dan Beasiswa 100%. Sungguh nikmat yang sangat besar sekali dari Allah. Dan sampai saat ini saya kuliah di STKIP AL-HIKMAH Surabaya dengan semangat menjadi guru pejuang abad-21, dengan lingkungan yang mendukung serta dosen-dosen yang berkualitas tinggi saya yakin dapat menjadi guru pejuang yang hebat.
Ya kurang lebih seperti itu lah kisah saya dalam memperjuangkan keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang saya minati, semoga dapat menginspirasi dan memotivasi diri saya sendiri khususnya dan umumnya kepada para pembaca.
-THERE CAN BE MIRACLES WHEN YOU BELIEVE, BELIEVE BY YOUR SELF AND BELIEVE TO ALLAH-
Terima kasih... Wassalamu'alaikum :-)
Perjuangan yg menarik...
Apa kabar teman yang menemanimu sllu...
Grandy?